Kewajiban
Bertaubat dan Urgensinya
Taubat dari dosa yang dilakukan
oleh seorang mu'min --dan saat itu ia sedang berusaha menuju kepada Allah SWT
-- adalah kewajiban agama. Diperintahkah oleh Al Quran, didorong oleh sunnah,
serta disepakati kewajibannnya oleh seluruh ulama, baik ulama zhahir maupun
ulama bathin.
Hingga Sahl bin Abdullah berkata:
Barangsiapa yang berkata bahwa taubat adalah tidak wajib maka ia telah kafir,
dan barangsiapa yang menyetujui perkataan seperti itu maka ia juga kafir. Dan
ia berkata: "Tidak ada yang lebih wajib bagi makhluk dari melakukan
taubat, dan tidak ada hukuman yang lebih berat atas manusia selain ketidak
tahuannya akan ilmu taubat, dan tidak menguasai ilmu taubat itu (Di sebutkan
oleh Abu Thalib Al Makki dalam kitabnya Qutul Qulub, juz 1 hal. 179).
Allah SWT berfirman:
"Dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah
orang-orang yang zalim". (QS .Al Hujurat: 11)
Ini
adalah dalil akan kewajiban bertaubat. Karena jika ia tidak bertaubat maka ia
akan menjadi orang-orang zhalim. Dan orang-orang yang zhalim tidak akan
beruntung.
"Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan
beruntung." (QS. Yusuf: 23)
Juga tidak dicintai Allah SWT:
"Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim."(
QS. Ali 'Imran: 57).
Serta mereka tidak mendapatkan petunjuk
dari Allah SWT:
"Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang zalim." (QS. Al Maidah: 51).
Dan mereka juga tidak selamat dari api
neraka:
"Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi
neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah
ditetapkan. Kemudian Kami menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan
membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan
berlutut." (QS. Maryam: 71-72.).
Ayat-ayat yang lain:
Di antara ayata-yat Al Quran yang
mengajak kepada taubat dan menganjurkannya, serta menjelaskan keutamaannya
dan buahnya adalah firman Allah SWT (QS.
Al Baqarah: 222):
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan
menyukai orang-orang yang mensucikan diri."
Taubat
dalam Al Quran
Al Quran memberi perhatian yang besar
terhadap taubat dalam banyak ayat-ayat yang tersebar dalam surah-surah
Makkiah atau Madaniah. Kita akan membaca ayat-ayat itu nantinya, insya Allah.
"Bertaubatlah kepada Allah SWT dengan Taubat yang
semurni-murninya".
Di antara perintah yang paling tegas
untuk melaksanakan taubat dalam Al Quran adalah firman Allah SWT:
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah
dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus
kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan
orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di
hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan
kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya
Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu" (QS. At Tahrim: 8).
Ini adalah perintah yang lain dari
Allah SWT dalam Al Quran kepada manusia untuk melakukan taubat dengan taubat
nasuha: yaitu taubat yang bersih dan benar. Perintah Allah SWT dalam Al Quran
itu menunjukkan wajibnya pekerjaan ini, selama tidak ada petunjuk lain yang
mengindikasikan pengertian selain itu. Sementara dalam ayat itu tidak ada petunjuk
yang lain itu. Oleh karena itu, hendaknya seluruh kaum mu'min berusaha untuk
menggapai dua hal atau dua tujuan yang pokok ini. Yaitu:
Seluruh individu muslim amat membutuhkan
dua hal ini:
Pertama: agar kesalahannya dihapuskan, dan dosa-dosanya diampunkan.
Karena manusia, disebabkan sifat kemanusiaannya, tidak mungkin terbebas dari
kesalahan dan dosa-dosa. Itu bermula dari kenyatan elemen pembentukan manusia
tersusun dari unsur tanah yang berasal dari bumi, dan unsur ruh yang berasal
dari langit. Salah satunya menarik ke bawah sementara bagian lainnya mengajak
ke atas. Yang pertama dapat menenggelamkan manusia pada perangai binatang
atau lebih buruk lagi, sementara yang lain dapat mengantarkan manusia ke
barisan para malaikat atau lebih tinggi lagi.
Oleh karena itu, manusia dapat
melakukan kesalahan dan membuat dosa. Dengan kenyataan itu ia membutuhkan
taubat yang utuh, sehingga ia dapat menghapus kesalahan yang diperbuatnya.
Kedua:
agar ia dapat masuk surga. Siapa yang tidak mau masuk surga? Pemikiran yang
paling berat menghantui manusia adalah: akan masuk kemana ia nantinya di
akhirat. Ini adalah masalah ujung perjalanan manusia yang paling penting:
apakah ia akan selamat di akhirat atau binasa? Apakah ia akan menang dan
bahagia ataukah ia akan mengalami kebinasaaan dan penderitaan? Keberhasilan,
kemenangan dan kebahagiaan adalah terdapat dalam surga. Sedangkan kebinasaan,
kekecewaan serta penderitaan terdapat dalam neraka:
"Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam
surga maka sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia ini tidak lain
hanyalah kesenangan yang memperdayakan" (QS. Ali Imran: 185.).
Konsekuensi
dengan Kewajiban bertaubat ini
Allah sangat menyukai orang yang
bertobat:
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan
menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS. Al Baqarah: 222).
Dan dalam penjelasan tentang keluasan
ampunan Allah SWT dan rahmat-Nya bagi orang-orang yang bertaubat. Allah SWT
berfirman:
"Katakanlah: "Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas
terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini membukakan pintu dengan
seluas-luasnya bagi seluruh orang yang berdosa dan melakuan kesalahan.
Meskipun dosa mereka telah mencapai ujung langit sekalipun. Seperti sabda
Rasulullah Saw:
"Jika
kalian melakukan kesalahan-kesalahan (dosa) hingga kesalahan kalian itu
sampai ke langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan
memberikan taubat kepada kalian." (Hadist diriwayatkan oleh Ibnu Majah
dari Abi Hurairah, dan ia menghukumkannya sebagai hadits hasan dalam kitab
sahih Jami' Shagir - 5235)
Di antara keutamaan orang-orang yang
bertaubat adalah: Allah SWT menugaskan para malaikat muqarrabin untuk
beristighfar bagi mereka serta berdo'a kepada Allah SWT agar Allah SWT
menyelamatkan mereka dari azab neraka. Serta memasukkan mereka ke dalam
surga. Dan menyelamatkan mereka dari keburukan. Mereka memikirkan urusan
mereka di dunia, sedangkan para malaikat sibuk dengan mereka di langit. Allah
SWT berfirman:
"(Malaikat-malaikat) yang memikul 'arsy dan malaikat yang
berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman
kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau
meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang
bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan
neraka yang bernyala-nyala, ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka kedalam
surga 'Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang
saleh di antara bapak -bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan
mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,
dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau
pelihara dari(pembalasan?)kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah
Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar."
(QS.Ghaafir: 7-9).
Siapa
yang Wajib Melaksanakan Taubat
Di antara ayat Al Quran yang berbicara
tentang taubat adalah firman Allah:
"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai
orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung" (QS. An-Nur: 31).
Dalam ayat ini, Allah SWT memerintahkan
kepada seluruh kaum mu'minin untuk bertaubat kepada Allah SWT, dan tidak
mengecualikan seorangpun dari mereka.
Meskipun orang itu telah demikian taat menjalankan syari'ah, dan telah
menanjak dalam barisan kaum muttaqin, namun tetap ia memerlukan taubat.
l Di antara
kaum mu'minin ada yang bertaubat dari dosa-dosa besar, jika ia telah
melakukan dosa besar itu. Karena ia memang bukan orang yang ma'shum (terjaga
dari dosa).
l Di antara
mereka ada yang bertaubat dari dosa-dosa kecil, dan sedikit sekali orang yang
selamat dari dosa-dosa macam ini.
l Dari mereka
ada yang bertaubat dari melakukan yang syubhat. Dan orang yang menjauhi
syubhat maka ia telah menyelamatkan agama dan nama baiknya.
l Dan diantara
mereka ada yang bertaubat dari tindakan-tindakan yang dimakruhkan.
l Dan di antara
mereka malah ada orang yang melakukan taubat dari kelalaian yang terjadi
dalam hati mereka.
l Dan dari
mereka ada yang bertaubat karena mereka berdiam diri pada maqam yang rendah
dan tidak berusaha untuk mencapai maqam yang lebih tinggi lagi.
Taubat orang awam tidak sama dengan
taubat kalangan khawas, juga tidak sama dengan taubat kalangan khawas yang
lebih tinggi lagi. Maka kembali --yaitu dengan bertaubat-- kepada Allah SWT
bagi setiap manusia adalah amat urgen, baik ia seorang Nabi atau orang yang
berperangai seperti babi, juga bagi wali atau si pencuri. Perkataan itu
didukung oleh hadits:
"Seluruh
kalian adalah pembuat salah dan dosa, dan orang yang berdosa yang paling baik
adalah mereka yang sering bertaubat". Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad
dan lainnya dari Anas.
Dari Abi Hurairah r.a. dari Nabi Saw
bersabda:
"Demi Dzat Yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, jika
kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah SWT akan membinasakan kalian dan
mendatangkan suatu makhluk lain yang berbuat dosa, sehingga mereka kemudian
meminta ampun kepada Allah SWT dan Allah SWT mengampuni mereka". (Karena
di antara nama Allah SWT adalah "Al Ghaffaar" --Maha Pemberi
ampunan. Maka siapa yang akan memberikan ampunan jika seluruh hamba-Nya
adalah orang-orang yang tidak pernah melakukan dosa?!! Maka orang yang telah
melakukan dosa hendaknya tidak menjadi putus asa, selama dosa yang ia lakukan
itu adalah bukan dosa besar. Karena ampunan Allah SWT lebih besar dari
dosanya itu. Dan Allah SWT berfirman: "Katakanlah: "Hai
hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah
kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Penyampun lagi Maha Penyayang".
(QS. Az-Zumar: 53).). Hadits diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya.
Contoh konkritnya:
Jika suatu saat orang terbebas dari
maksiat yang dilakukan oleh tubuhnya, maka ia tidak dapat terlepas dari
keinginan berbuat maksiat dalam hatinya. Dan jikapun tidak ada keinginan itu,
dapat pula ia merasakan was-was yang ditiupkan oleh syaitan sehingga ia lupa
dari dzikir kepada Allah SWT. Dan jika tidak, dapat pula ia mengalami
kelalaian dan kurang dalam mencapai ilmu tentang Allah SWT, sifat-sifat-Nya
serta perbuatan-perbuatan-Nya. Semua itu adalah kekurangan dan masing-masing
mempunyai sebabnya. Dan membiarkan sebab-sebab itu dengan menyibukkan diri
dengan pekerjaan yang berlawanan berarti mengembalikan diri ke tingkatannya
yang rendah. (Lihat: Syarh Ainul Ilmi wa Zainul Hilm, juz 1 hal. 175. Kitab
ini adalah mukhtasar (ringkasan) kitab Ihya Ulumuddin).
Mengajak
Kaum Musyrikin dan Kaum Kafir untuk Bertaubat (yang Bagi kaum Muslimin adalah
Wajib)
Di antara ayat-ayat Al Quran ada yang
mengajak kaum musyrikin untuk bertaubat,
serta membukan pintu bagi mereka untuk bergabung dalam masyarakat muslim,
serta menjadi saudara seiman mereka. Seperti firman Allah SWT dalam surah
at-Taubah setelah memerintahkan untuk memerangi kaum musyrikin yang melanggar
perjanjian damai:
"Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan
menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. at-Taubah:
5).
"Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan
zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama." (QS.
At-Taubah: 11)
Al Quran juga mengajak orang-orang
Kristen untuk bertaubat dari perkataan
mereka tentang ketuhanan al Masih atau ia sebagai satu dari tiga oknum tuhan!
Sedangkan ia sebetulnya hanyalah seorang hamba Allah. Dan baginya telah
terjadi apa yang terjadi bagi manusia biasa. Serta Al Quran mengajak untuk
menyembah Allah SWT saja.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata:
"Sesungguhnya Allah ialah al Masih putera Maryam", padahal al-Masih
(sendiri) berkata: "Hai bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan
Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah,
maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka,
tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya
kafirlah orang-orang yang mengatakan: " bahwasanya Allah salah satu dari
yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah)
selain Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka
katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa
siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan
memohon ampun kepadaNya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS. Al Maidah: 72-74 ).
Bahkan Allah SWT Yang Maha Pemurah juga
membuka pintu taubat bagi orang-orang kafir yang telah demikian keji menyiksa
kaum mu'mimin dan mu' minat, serta
telah melemparkan kaum mu'minin itu ke dalam api yang panas:
"Yang berapi (dinyalakan dengan)
kayu bakar. Ketika mereka duduk di sekitarnya. Sedang mereka menyaksikan apa
yang mereka perbuat terhadap orang-orang beriman." (QS. al Buruj: 5-7.)
Allah SWT berfirman setelah menyebutkan
kisah mereka itu, bahwa mereka membenci kaum mu'minin itu semata karena kaum
mu'minin beriman kepada Allah SWT semata (ayat 8).
Allah SWT befirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada
orang-orang yang mu'min laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak
bertaubat, maka bagi mereka azab jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang
membakar." (QS. al Buruuj: 10).
Hasan al Bashri mengomentari ayat ini:
"lihatlah kedermawanan dan kemurahan Allah SWT ini: mereka membunuh para
wali-Nya, dan Dia kemudian mengajak mereka itu untuk bertaubat dan meminta
ampun kepada-Nya!."
Hingga kemurtadan --yaitu orang yang
kafir setelah iman- taubat mereka masih dapat diterima. Allah SWT berfirman:
"Bagaimana Allah akan menunjuki
suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui
bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun
telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim.
Mereka itu balasannya ialah: Bahwasanya la'nat Allah ditimpakan kepada
mereka, (demikian pula) la'nat para malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka
kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula)
mereka diberi tangguh, kecuali orang-orang yang taubat, sesudah (kafir) itu
dan mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang." (QS. Ali Imran: 86-89.)
Taubat
Nabi-nabi dalam Al Quran
Al Quran telah menyebutkan kepada kita
taubat Nabi-nabi dan orang-orang yang saleh atas perbuatan salah mereka.
Mereka segera menyesal, bertaubat dan beristighfar dari kesalahan itu. Dengan
berharap agar Allah SWT mengampuni dan meneriman taubat mereka.
1. Taubat
Nabi ADAM a.s.: Pemimpin orang-orang yang taubat adalah nenek moyang
manusia, Adam a.s. Yang telah Allah SWT jadikan dia dengan tangan-Nya dan meniupkan
ke dalam dirinya secercah dari ruh-Nya, memerintahkan malaikat untuk sujud
kepadanya, mengajarkan kepadanya seluruh nama-nama, serta menampilkan
keutamaannya atas malaikat dengan ilmu pengetahuannya. Namun Adam yang
selamat dalam ujian ilmu pengetahuan, tidak selamat dalam "term
pertama" ujian iradah (mengekang hawa nafsu). Allah SWT mengujinya
dengan beban pertama yang ditanggungkan kepadanya. Yaitu melarang untuk
memakan suatu pohon. Hanya satu pohon yang dilarang untuk dimakannya, sementara
memberikan kebebasan baginya untuk memakan seluruh pohon surga sesuka
hatinya, bersama isterinya. Di sini tampak ia tidak dapat menahan keinginan
pribadinya, serta melupakan larangan Rabbnya dengan dipengaruhi bujuk rayu
syaitan dan tipu dayanya, sehingga dia pun memakannya dan dia pun terjatuh
dalam kemaksiatan. Namun secepatnya dia mencuci dan membersihkan dirinya dari
bekas-bekas dosa itu, dengan taubat dan istighfar.
"Dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.
Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya
petunjuk." (QS. Thaaha: 121-122)
2. Taubat
Nabi MUSA a.s.: Al Quran menceritakan kepada kita tentang taubat Musa
yang dipilih Allah untuk membawa risalah-Nya dan menerima kalam-Nya. Namun ia
telah melakukan dosa sebelum mendapatkan risalah. Yaitu karena menuruti
permintaan seseorang dari kaumnya yang sedang bertengkar dengan kaum Fir'aun
untuk membantunya, maka kemudian Musa memukulnya dan orang itupun tewas
seketika.
"Musa berkata: Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya
syaitan adalah musuh yang menyesatkan, lagi nyata (permusuhannya). Musa
mendo'a: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena
itu ampunilah aku. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. al Qashash: 15-16)
3. Taubat
Nabi YUNUS a.s: Al Quran juga menceritakan tentang taubat Nabi Yunus a.s.
Ketika beliau berdakwah kepada kaumnya untuk menyembah Allah SWT namun mereka
tidak menuruti dakwahnya itu. Maka Nabi Yunus tidak merasa sabar menghadapi
itu, dan marah terhadap kaumnya, kemudian beliaupun pergi meninggalkan
mereka. Kemudian Allah SWT ingin menguji beliau dengan cobaan yang dapat
membersihkannya, dan menampakkan sifat aslinya yang bagus. Serta sejauh mana
keyakinanya terhadap Rabbnya dan kejujurannya dengan Rabbnya. Beliau kemudian
menaiki sebuah kapal laut, di tengah laut kapal itu dihantam angin besar, dan
dipermainkan oleh ombak, dan mereka merasa bahwa mereka sedang berada dalam
bahaya yang besar. Para anak buah kapal berkata; kita harus mengurangi beban
kapal sehingga kapal ini tidak tenggelam. Dan akhirnya mereka harus memilih
untuk menceburkan sebagian orang yang berada di atas kapal itu agar para
penumpang yang lain selamat dari ancaman tenggelam itu. Hal itu dilakukan
dengan sistem undian. Kemudian undian itu jatuh kepada Yunus, dan beliaupun
harus mengikuti nasibnya itu. Maka beliaupun dilemparkan ke laut, dan
kemudian ditelan oleh seekor ikan paus, sambil mendapatkan kecaman karena ia
marah terhadap kaumnya serta meninggalkan mereka, karena putus harapan atas
mereka. Tanpa berupaya untuk terus mengulangi usahanya itu. Di dalam perut
ikan paus itu, keyakinan Yunus kembali menguat, dan beliau berdo'a dalam
kegelapan yang menyelimutinya itu: kegelapan laut, kegelapan malam, dan
kegelapan perut ikan paus, dengan kalimat-kalimat yang direkam oleh Al Quran
ketika bercerita dengan ringkas tentang Yunus ini:
"Dan (ingatlah) kisah Dzun Nun (Yunus) ketika ia pergi
dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya
atau menyulitkannya, maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: Bahwa
tidak ada tuhan (yang berhak di sembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau,
sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami telah
memperkenankan do'anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan
demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." (QS. al Anbiyaa:
87-88)
Tiga
kalimat pendek yang dipergunakan oleh Yunus a.s. (La Ilaha Illa Anta
Subhaanaka Inni kuntu minazh zhaalimiin), namun ketiganya mempunyai
pengertian yang besar:
Pertama: menunjukkan atas tauhid --tauhid uluhiyah (Tauhid uluhiyah
sendiri mengandung arti mengesakan Allah dengan semua peribadatan yang
disyariatkan. Segala peribadatan tersebut tidaklah boleh dipalingkan kepada
siapapun, apakah nabi yang diutus atau malaikat yang mempunyai kedudukan
dekat disisi Allah, terlebih lagi kepada yang lain. Contoh dari ibadah antara
lain thowaf, sholat, haji, puasa, nadzar, i'tikaf, menyembelih, sujud,
ruku', khauf (rasa takut), raja` (rasa harap), senang, takut, khusu', istighosah
atau jenis ibadah yang lainnya yang telah Allah syariatkan didalam Al-Qur'an
dan telah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam syariatkan dalam
sunnahnya yang shohih, baik perbuatan maupun ucapan. ) --, yang dengannya
Allah SWT mengutus para Rasul, menurunkan kitab-kitab, dan dengannya pula
berdiri surga dan neraka: "La Ilaha Illa Anta" “tidak ada tuhan
(yang berhak di sembah) selain Engkau".
Kedua: menunjukkan pembersihan Allah SWT dari seluruh kekurangan.
Ini adalah makna tasbih yang dilakukan langit dan bumi dan seluruh makhluk.
Karena segala sesuatu bertasbih dengan memuji-Nya. "Subhaanaka"
"Maha Suci Engkau".
Ketiga: Menunjukkan pengakuan atas dosa yang dilakukan. Tidak
menjalankan hak Rabbnya dengan sempurna serta menzhalimi diri sendiri karena
sikapnya itu. "Inni kuntu minazh zhaalimiin" "sesungguhnya aku
adalah termasuk orang-orang yang zalim " ini adalah tanda sebuah taubat.
Tidak
heran jika kata-kata yang pendek namun jujur dan ikhlas itu segera mendapatkan
jawabannya di dunia ini, sebelum di akhirat:
"Maka Kami telah memperkenankan do'anya dan
menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan
orang-orang yang beriman." (QS. al Anbiya: 88)
Dan
kata-kata yang mengandung tiga hal ini: peng-esaan, pembersihan
dan pengakuan, menjadi contoh bagi pujian dan do'a ketika terjadi
kesulitan. Hingga dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia
mensahihkannya diriwayatkan:
"Do'a saudaraku Dzun Nun (Nabi Yunus) yang jika dibaca
oleh orang yang sedang tertimpa bencana niscaya Allah SWT akan menghilangkan
bencana dan kesulitannya itu: "Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci
Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang melakukan
kezaliman".
4. Taubat
Nabi DAUD a.s.: Al Quran juga menuturkan kepada kita tentang cerita
taubat nabi Daud a.s. seperti diceritakan dalam surah Shaad. Yaitu ketika dua
orang yang sedang berselisih datang kepada beliau, dan memasuki mihrab
beliau, sehingga beliau terkejut melihat kedua orang itu. Keduanya kemudian
berkata:
"Janganlah kamu merasa takut (kami) adalah dua orang yang
berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain ; maka
berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari
kebenaran dan tunjukkilah kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku
ini, mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai
seekor saja. Maka dia berkata: Serahkanlah kambingmu itu kepadaku, dan ia
mengalahkan aku dalam perdebatan. Daud berkata: Sesungguhnya dia telah
berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada
kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu
sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah
mereka ini. Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya, maka ia meminta ampun
kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni baginya
kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi
Kami dan tempat kembali yang baik." (QS. Shaad: 22-25)
Kita
lihat, apa kesalahan Nabi Daud dalam kisah ini, yang dia sangka sebagai
fitnah, dan cobaan bagi beliau, kemudian beliau beristighfar kepada Rabbnya,
serta tunduk sujud dan memohon ampunan.
Yang
tampak dalam kisah itu adalah: Nabi Daud a.s. bertindak dengan tergesa-gesa
serta tidak meneliti dahulu secara mendalam, sehingga beliau terpengaruhi
oleh dorongan emosi ketika mendengar perkataan salah seorang yang sedang
berselisih itu. Dan secara tergesa-gesa memutuskan hukum dengan merugikan
pihak lain, tanpa terlebih dahulu mendengar alasan-alasannya, dan memberikan
kesempatan kepadanya untuk membela dirinya sendiri. Oleh karena itu, datang
perintah Tuhan agar Daud tidak cepat terpengaruh oleh emosinya dalam
menetapkan suatu hukum. Dalam firman Allah SWT:
"Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah
(penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia
denga adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan
menyesatkan kamu dari jalan Allah." (QS. Shaad: 26)
Taubat
dalam Sunnah Nabi Saw.
Dalam sunnah Nabi Saw, kita banyak
menemukan hadits-hadits yang mengajak kita untuk bertaubat, menjelaskan
keutamaannya, dan mendorong untuk melakukannya dengan berbagai cara. Hingga
Rasulullah Saw bersabda:
"Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah SWT,
karena sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah SWT dalam satu hari sebanyak
seratus kali". (Hadits diriwayatkan oleh Muslim dari Al Aghar al Muzni.)
Dari Abi Musa r.a. diriwayatkan bahwa
Rasulullah Saw bersabda:
"Sesungguhnya Allah SWT membuka "tangan"-Nya
pada malam hari untuk memberikan ampunan kepada orang yang melakukan dosa
pada siang hari, dan membuka "tangan"-Nya pada siang hari, untuk
memberikan ampunan kepada orang yang melakukan dosa pada malam hari, (terus
berlangsung demikian) hingga (datang masanya) matahari terbit dari Barat
(kiamat)". Hadits diriwayatkan oleh an-Nasaai.
Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah
Saw bersabda:
"Jika kalian melakukan dosa hingga dosa kalian sampai ke
matahari, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan mengampuni
kalian". Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang baik.
(Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Az Zuhd (4248), dan dalam
kitab az Zawaid diterangkan: ini adalah isnad hasan.).
Dari Jabir r.a. ia berkata: Aku
mendengar Rasulullah Saw bersabda:
"Di antara kebahagiaan manusia adalah, panjang usianya,
dan Allah SWT memberikan rezeki taubat kepadanya". Hadits ini
diriwayatkan oleh Al Hakim. Dan ia berkata: isnad hadits ini sahih.
(Penilaian Al Hakim ini disetujui oleh Adz Dzahabi (4/240) dan Al Haitsami
menyebutkan sebagian hadits ini dan berkata: Hadits ini diriwayatkan oleh
Ahmad dan Al Bazzar, dan sanadnya adalah hasan (10/203).).
Dari Abi Hurairah r.a. bahwa ia
mendengar Rasulullah Saw bersabda:
"Seorang hamba melakukan dosa, dan berdo'a: 'Ya Tuhanku,
aku telah melakukan dosa maka ampunilah aku'. Tuhannya berfirman: 'hamba-Ku
mengetahui bahwa ia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dan menghapus
dosanya, maka Tuhan-pun mengampuninya'. Kemudian waktu berjalan dan orang itu
tetap seperti itu hingga masa yang ditentukan Allah SWT, hingga orang itu
kembali melakukan dosa yang lain. Orang itupun kembali berdo'a: 'Ya
Tuhanku, aku kembali melakukan dosa, maka ampunilah dosaku'. Tuhan-nya
berfirman: 'Hamba-Ku mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan Yang mengampuni dan
menghapus dosanya', maka Tuhan-pun mengampuninya. Kemudian ia terus dalam
keadaan demikian hingga masa yang ditentukan Allah SWT, hingga akhirnya ia
kembali melakukan dosa. Dan ia berdo'a: 'Ya Tuhanku, aku telah melakukan
dosa, maka ampunilah daku'. Tuhan-nya berfirman: 'Hamba-Ku mengetahui bahwa
ia mempunyai Tuhan Yang mengampuni dan menghapus dosanya'. Maka Tuhannya
berfirman: 'Aku telah berikan ampunan kepada hamba-Ku, dan silahkan ia
melakukan apa yang ia mau". Hadits diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Redaksi: 'falya'mal ma syaa'
"silakan ia melakukan apa yang ia mau" maknanya adalah --wallahu
a'lam--: selama dia melakukan dosa dan beristighfar kemudian diampuni, dan ia
tidak melakukan dosa itu lagi. Dengan dalil redaksi: "kemudian ia
melakukan dosa lagi" maka ia dapat melakukannya lagi jika itu merupakan
perangainya, sesuai kemauannya. Karena ia, setiap kali ia melakukan suatu
dosa maka taubat dan istihgfarnya menjadi penghapus dosanya itu, dan ia tidak
mendapatkan celaka. Tidak karena ia melakukan suatu dosa, kemudian ia beristighfar
dari dosanya itu dengan tanpa berusaha membebaskan dirinya dari kebiasan
buruknya itu, karena itu adalah taubat orang yang suka bohong.
Telah disebutkan sebelumnya, Rasulullah
Saw bersabda:
"Sesungguhnya seorang hamba, jika ia melakukan dosa maka
terdapat bintik hitam dalam hatinya, dan jika ia bertaubat dan meninggalkan
perbuatan dosa itu serta beristighfar, maka hatinya kembali
dibersihkan".
Dari Abdullah bin Umar r.a. dari Nabi
Saw bersabda:
"Sesungguhnya Allah SWT akan menerima taubat seorang hamba
selama nafasnya belum sampai di tenggorokan (sakratul maut)". Hadits
diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan Tirmizi. Ia berkata: hadits ini hasan.
Dari Abdullah bin Mas'ud r.a. dari Nabi
Saw bersabda:
"Orang yang bertaubat dari dosa adalah seperti orang yang tidak
berdosa". Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan Thabrani dan keduanya
dari riwayat Abi Ubaidah bin Abdullah bin Mas'ud dari bapaknya. Dan ia tidak
mendengar darinya. Dan para perawi Thabrani adalah sahih.
Dari Abi Sa'id al Khudri r.a. bahwa
Nabi Saw bersabda:
"Pada jaman sebelum kalian ada seseorang yang telah
membunuh sembilan puluh sembilan manusia, kemudian ia mencari manusia yang
paling alim di muka bumi, dan ia pun ditunjukkan kepada seorang rahib. Ia
mendatangi rahib itu dan bertanya: bahwa ia telah membunuh sembilan puluh
sembilan manusia, maka apakah ia masih dapat bertaubat?. Sang rahib menjawab:
"tidak". Dan orang itupun membunuh sang rahib, hingga ia melengkapi
bilangan seratus orang yang telah ia bunuh. Kemudian ia kembali menanyakan
tentang orang yang paling alim di muka bumi, dan ia pun ditunjukkan kepada
seorang alim, dan ia bertanya: bahwa ia telah membunuh seratus manusia, maka
apakah ia dapat bertaubat? Orang alim itu menjawab: "ya bisa, siapa yang
menghalangi antaranya dengan taubat? Pergilah engkau ke daerah ini dan ini,
karena di sana ada manusia yang menyembah Allah, maka beribadahlah bersama
mereka, dan jangan kembali ke negerimu lagi; karena ia adalah negeri yang
buruk". Orang itu kemudian berangkat menuju negeri yang ditunjukan itu
hingga sampai di tengah perjalanan, di sana malaikat maut mendatanginya dan
mencabut nyawanya. Kemudian malaikat rahmat dan malaikat azab bertengkar;
malaikat rahmah berkata: Orang ini telah berangkat untuk bertaubat kepada
Allah SWT (oleh karena itu ia berhak mendapatkan rahmah). Sedangkan malikat
azab berkata: orang ini tidak pernah melakukan kebaikan sedikitpun (oleh
karena itu ia seharusnya diazab. Selanjutnya, datang malaikat dalam bentuk
seorang manusia, dan berkata kepada keduanya: Ukurlah antara dua negeri itu
(antara tempat asalnya dan tempat tujuannya), tempat mana yang lebih dekat
orang itu, maka orang itu dimasukkan dalam kelompok itu. Malaikat pun
mengukurnya dan mendapati orang itu lebih dekat ke tempat yang ditujunya
(tempat orang saleh), maka orag itupun dicabut oleh malaikat rahmah".
dalam riwayat lain:
"Allah SWT memerintahkan kepada negeri yang buruk itu
untuk menjauh dan kepada negeri yang saleh untuk mendekat. Kemudian
memerintahkan kepada malaikat: Ukurlah antara keduanya, dan para malaikut
mendapati orang itu lebih dekat ke negeri yang saleh sekadar satu hasta, maka
Allah SWT mengampuni orang itu".
Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah
Saw bersabda:
"Allah SWT berfirman: " Aku sesuai dengan persangkaan
hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya ketika ia berdzikir kepada-Ku,
dan Allah SWT lebih senang dengan taubat seorang manusia dari pada seorang
kalian yang menemukan kembali perbekalannya di padang tandus. Barangsiapa
yang mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu
lengan, dan barang siapa mendekat kepada-Ku satu lengan maka Aku akan
mendekat kepadanya dua lengan, dan jika ia menghadap kepada-Ku dengan
berjalan maka Aku akan menemuinya dengan berlari". Hadits diriwayatkan
oleh Muslim, dan lafazhnya darinya, juga Bukhari dengan lafazh yang sama.
Unsur-unsur
Taubat
Terma dari akar kata "t-w-b"
dalam bahasa Arab menunjukkan pengertian: pulang dan kembali.
Sedangkan taubat kepada Allah SWT berarti pulang dan kembali ke haribaan-Nya
serta tetap di pintu-Nya.
Allah SWT telah menciptakan manusia
dari dua unsur. Di dalam tubuhnya terdapat unsur tanah, juga unsur ruh.
Inilah yang menjadikannya layak dijadikan objek sujud oleh malaikat sebagai
penghormatan dan pemuliaan kedudukannya. Allah SWT berfirman:
"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat:
"Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah". Maka
apabila telah Ku sempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh
(ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya."
QS. Shaad: 71-72..
Allah SWT tidak memerintahkan malaikat
untuk bersujud kepada Adam kecuali setelah Allah SWT memperbagus bentuknya
dan meniupkan ruh ke dalam tubuhnya.
Ketika manusia ta'at kepada Rabbnya
berarti tiupan ruh itu mengalahkan sisi tanahnya. Atau dengan kata lain, sisi
ruhani mengalahkan sisi materi. Dan sisi Rabbani mengalahkan sisi tanah yang
rendah. Maka manusia meningkat dan mendekat kepada Rabbnya, sesuai dengan
usahanya untuk meningkatkan sisi ruhaninya ini.
Ketika manusia berbuat maksiat terhadap
Rabbnya, maka posisi itu terbalik; sisi tanah mengalahkan sisi ruh, dan sisi
materi yang rendah mengalahkan sisi Rabbani yang tinggi. Maka manusia
merendah dan menjadi lebih hina, serta menjauh dari Allah SWT sesuai dengan seberapa
jauh dosa dan kemaksiatan yang ia lakukan.
Kemudian taubat memberikan kesempatan
kepadanya untuk mencapai apa yang tidak ia dapatkan, serta meluruskan kembali
perjalanan hidupnya. Maka manusia itupun kembali menaik setelah kejatuhannya,
dan mendekat kepada Rabbnya setelah ia menjauhi-Nya, serta kembali kepada-Nya
setelah memberontak dari-Nya.
Taubat
Nasuha
Taubat yang diperintahkan agar
dilakukan oleh kaum mu'minin adalah taubat nasuha (yang
semurni-murninya) seperti disebut dalam Al Quran:
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah
dengan taubat yang semurni-murninya." QS. at-Tahrim: 8
Kemudian apa makna taubat nasuha itu.
l Al-Hafizh
Ibnu Katsir berkata dalam kitab tafsirnya: "artinya adalah, taubat yang
sebenarnya dan sepenuh hati, akan menghapus keburukan-keburukan yang
dilakukan sebelumnya, mengembalikan keaslian jiwa orang yang bertaubat, serta
menghapus keburukan-keburukan yang dilakukannya."
l Ibnu Jarir,
Ibnu Katsir dan Ibnu Qayyim menyebutkan dari Umar, Ibnu Mas'ud serta Ubay bin
Ka'b r.a. bahwa pengertian taubat nasuha: adalah seseorang yang bertaubat
dari dosanya dan ia tidak melakukan dosa itu lagi, seperti susu tidak kembali
ke payudara hewan.
l Hasan Al
Bashri berkata: taubat adalah jika seorang hamba menyesal akan perbuatannya
pada masa lalu, serta berjanji untuk tidak mengulanginya.
l Al Kulabi
berkata: Yaitu agar meminta ampunan dengan lidah, menyesal dengan hatinya,
serta menjaga tubuhnya untuk tidak melakukannnya lagi.
l Sa'id bin
Musayyab berkata: taubat nasuha adalah: agar engkau menasihati diri kalian
sendiri.
l Muhammad bin
Ka'b al Qurazhi berkata: taubat itu diungkapkan oleh empat hal: beristighfar
dengan lidah, melepaskannya dari tubuh, berjanji dalam hati untuk tidak
mengerjakannya kembali, serta meninggalkan rekan-rekan yang buruk.
Penjelasan
Tentang Unsur-unsur yang Menciptakan Hakikat Taubat
Dari penuturan Al Gazhali dan ulama
lainnya dapat ditarik pengertian: bahwa hakikat taubat yang diperintahkan
Allah SWT bagi seluruh kaum mu'minin agar mereka beruntung, serta
memerintahkan agar mereka bertaubat dengan taubat nasuha, terdiri dari
beberapa unsur dan faktor yang tiga itu: tersusun secara berurutan satu sama
lain.
1.
Unsur pengetahuan dalam taubat
Unsur pertama adalah unsur
pengetahuan. Yang tampak dalam pengetahuan manusia akan kesalahannya dan
dosanya ketika ia melakukan kemaksiatan kepada Rabbnya, serta matanya terbuka
sehingga ia dapat melihat kesalahannya itu, melepaskan sumbatan dari
telinganya sehingga ia dapat mendengar, dan mengusir kegelapan dari akalnya
sehingga ia dapat berpikir, dalam setiap kesempatan kembalinya diri kepada
fithrahnya. Saat itu ia akan mengetahui keagungan Rabbnya, kemuliaan
maqam-Nya dan kebesaran hak-Nya. Juga mengetahui kekurangan dirinya, mengapa
ia mengikuti syaitan, serta kerugiannya yang jelas di dunia dan akhirat jika
ia terus berjalan mengikuti perilaku Iblis dan tentaranya.
Kesadaran jiwa adalah pangkal pertama
bagi bangunan taubat. Dialah yang akan mendorong hati untuk menyesal,
kemudian bertekad untuk meninggalkan dosa itu, lidahnya beristihgfar,
kemudian tubuhnya mencegah dari melakukan dosa itu.
Inilah yang diperingatkan oleh Al Quran
dalam firman Allah SWT:
"Dan orang -orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya
Al Qur'an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati
mereka kepadanya" (QS. al Hajj: 54.)
Allah SWT berfirman tentang sifat kaum
muttaqin:
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan
keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon
ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa
selain dari pada Allah? - Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu,
sedang mereka mengetahui". (QS. Ali Imran: 135)
Al Qusyairi berkata dalam kitabnya
"Risalah Qusyairiah": taubat yang pertama adalah: bangunnya hati
dari kelalaian, serta sang hamba melihat kondisi yang buruk akibat dosa yang
ia perbuat. Dan itu akan mendorongnya untuk mengikuti dorongan hati nuraninya
agar tidak melanggar perintah Allah SWT. Karena dalam khabar disebutkan:
"penasehat dari Allah SWT terdapat dalam hati setiap orang muslim".
(Hadits diriwayatkan oleh Ahmad dari An Nuwas bin Sam'an). Dan dalam khabar:
"Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging, jika ia baik maka
baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh,
ketahuilah itulah hati". (Hadits muttafaq alaih dari Nu'man bin Basyir).
Jika hatinya merenungkan keburukan
perbuatannya, serta ia menyadari dosa-dosa yang ia perbuat itu, niscaya dalam
hatinya akan terdetik keinginan untuk bertaubat, dan menjauhkan diri dari
melakukan tindakan-tindakan yang buruk itu. Kemudian Allah SWT akan
membantunya dengan menguatkan tekadnya itu, melakukan tindakan koreksional
atas dosa-dosanya, serta melakukan perbuatan-perbuatan yang seharusnya dalam
bertaubat. (Risalah Qusyairiah dengan tahqiq Dr. Abdul Halim Mahmud, dan Dr.
Mahmud bin Syarif, (juz 1/ 254, 255).
2.
Unsur Hati dan Keinginan
Unsur kedua dalam taubat adalah: unsur
jiwa, yang berhubungan dengan hati dan keinginan diri. Atau dengan kata lain:
emosi dan inklinasi. Dari unsur ini ada yang berhubungan dengan masa lalu,
dan ada yang berhubungan dengan masa depan.
a.
Menyesal dengan sangat
Yang berkaitan dengan masa lalu adalah
apa yang kita kenal dengan penyesalan. Tentang ini terdapat hadits:
"penyesalan adalah taubat". Karena ia adalah bagian yang paling
penting dari taubat. Al Qusyairi mengutip dari beberapa ulama: penyesalan itu
cukup untuk mewujudkan taubat. Karena penyesalan itu akan menghantarkan
kepada dua rukun lainnya, yaitu tekad dan meninggalkan perbuatan dosa. Adalah
mustahil jika ada seseorang yang menyesali tindakan yang masih terus ia
lakukan atau ingin ia lakukan kembali.
Penyesalan adalah: perasaan, emosi atau
gerak hati. Yaitu suatu bentuk penyesalan dalam diri manusia atas perbuatan
dosa yang ia lakukan terhadap Rabbnya, terhadap makhluk yang lain dan bagi
dirinya sendiri. Ini adalah penyesalan yang mirip dengan api yang membakar
hati dengan sangat. Malah ia akan merasakannya seperti dipanggang ketika ia
mengingat dosanya, sikap pelanggarannya serta hak Rabbnya atasnya. Itu
adalah kondisi "terbakar di dalam" yang diungkapkan oleh
sebagian kaum sufi ketika mereka mendefinisikan taubat: melelehkan lemak
(yang terkumpul) karena kesalahan masa lalu. Dan yang lain berkata: ia
adalah api hati yang membakar, serta sakit dalam hati yang tidak terobati!.
Contoh penyesalan dalam Al-quran dan
Hadist:
Al Quran telah mendeskripsikan sisi
jiwa ini bagi beberapa orang yang melakukan taubat, dengan deskripsi yang
amat bagus. Yaitu dalam kisah tiga sahabat yang absen dari mengikuti perang
yang besar bersama Rasulullah Saw, yaitu perang Tabuk. Yang merupakan peperangan
pertama Rasulullah Saw dengan negara yang paling kuat di dunia saat itu:
negara Romawi. Mereka tidak mengungkapkan alasan bohong seperti kaum munafik,
maka Rasulullah Saw memerintahkan untuk mengucilkan mereka. Kemudian mereka
menyesali perbuatan mereka itu dengan sangat, dan dilukiskan oleh Al Quran
sebagai berikut:
"Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan
taubat ) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka,
padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh
mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari
(siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat
mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha
Penerima taubat lagi Maha Penyayang". (QS. at-Taubah: 118)
Di antara bentuk penyesalan adalah:
mengakui dosa, dan tidak lari dari pertanggungjawaban dosa itu, serta meminta
ampunan dan maghfirah dari Allah SWT.
Seperti kita temukan dalam kisah Adam
setelah beliau dan istirnya memakan pohon yang dilarang itu:
"Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah
menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan
memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang
merugi". (QS. al A'raf: 23)
b. Tekad
yang kuat
Jika penyesalan itu berkaitan dengan
masa lalu dan kesalahan yang telah ia perbuat; ada dimensi dalam taubat yang
berkaitan dengan masa depan, yaitu dengan bertekad untuk
meninggalkan maksiat itu dan bertaubat darinya secara total, dan tidak akan
kembali melakukannya selama-lamanya. Seperti susu yang tidak mungkin kembali
ke puting hewan setelah diperah. Ini semua berpulang pada keinginan dan tekad
orang itu. Dan tekad itu harus kuat betul, bukan keinginan yang dilandasi
oleh keragu-raguan. Tidak seperti mereka yang pada pagi harinya bertaubat
sementara pada sore harinya kembali mengulangi lagi dosanya!
Taubat itu tidak batal jika suatu saat
tekadnya itu sedikit melemah kemudian ia terlena oleh dirinya, tertipu oleh
syaitan sehingga ia terpeleset, dan kembali melakukan kemaksiatan. Dalam
kasus seperti ini, ia harus segera melakukan taubat, menyesal dan menyusun
tekad lagi. Dan ia tidak perlu putus-asa takut taubatnya tidak diterima jika
memang tekadnya tulus. Allah SWT berfirman:
"Maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang
yang bertaubat" [QS. al Isra: 25].
Imam Ibnu Katsir berkata:
"Sedangkan jika ia bertekad untuk bertaubat dan memegang teguh tekadnya,
maka itu akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya pada masa lalu. Seperti
terdapat dalam hadits sahjih "Islam menghapuskan apa yang sebelumnya,
dan taubat menghapuskan dosa yang sebelumnya".
Ibnu Katsir berkata: "apakah
syarat taubat nasuha itu orang harus tetap bersikap seperti itu hingga ia
mati, seperti diungkapkan dalam hadits dan atsar: "kemudian ia tidak
kembali melakukannya selama-lamanya", ataukah cukup bertekad untuk tidak
mengulangi lagi, untuk menghapus dosa yang telah lalu, sehingga ketika ia
kembali melakukan dosa setelah itu, maka ia tidak merusak taubatnya dan
menghidupkan kembali dosa yang telah terhapuskan, dengan melihat generalitas
pengertian hadits: "Taubat menghapus dosa yang sebelumnya" [Tafsir
Ibnu Katsir: 4/ 392 , cet. Al Halabi.]?.
Ibnu Qayyim membicarakan hal ini dalam
kitabnya "Madarij Salikin" dan menyebut dua pendapat:
1. Satu
pendapat mengharuskan agar orang itu tidak mengulangi kembali dosanya sama
sekali. Dan berkata: ketika ia kembali melakukan dosa, maka jelaslah
taubatnya yang dahulu itu batal dan tidak sah.
2. Sedangkan
menurut pendapat kalangan mayoritas, hal itu tidak menjadi syarat.
Kesahihan taubat hanya ditentukan oleh tindakannya meninggalkan dosa itu, dan
bertaubat darinya, serta bertekad dengan kuat untuk tidak mengulanginya lagi.
Dan jika ia mengulanginya lagi padahal ia dahulu telah bertekad untuk tidak
mengulang dosanya itu, maka saat itu ia seperti orang yang melakukan
kemaksiatan dari permulaan sekali, sehingga taubatnya yang lalu tidak batal.
Ia berkata: masalah ini dibangun di
atas dasar pertanyaan: "Apakah seorang hamba yang bertaubat dari suatu
dosa kemudian ia mengulanginya dosanya itu, ia kembali menanggung dosa yang
telah ia mintakan taubatnya sebelumnya, sehingga ia harus menanggung dosa
yang lalu dan sekarang ini, jika ia mati saat masih melakukan maksiat?
Ataukah itu telah terhapus, sehingga ia tidak lagi menanggung dosanya, namun
hanya menanggung dosa yang terakhir itu?"
Dalam masalah ini ada dua pendapat:
Satu kelompok berpendapat: ia kembali menanggung dosa yang telah ia mintakan taubatnya
dahulu itu, karena taubatnya telah rusak dan batal ketika ia mengulangi
dosanya. Mereka berkata: karena taubat dari dosa adalah seperti keislaman
dengan kekafiran. Seorang yang kafir ketika ia masuk Islam maka
keislamannya itu akan menghapuskan seluruh dosa kekafiran dan dosa yang
pernah dilakukannya. Kemudian jika ia murtad, dosanya yang lalu itu kembali
ia tanggung ditambah dengan dosa murtad. Seperti terdapat dalam hadits Nabi
Saw:
"Barangsiapa yang beramal baik
dalam Islam (setelah masuk ke dalamnya dari kejahiliyahan) maka ia tidak akan
dipertanyakan akan apa yang telah diperbuatnya pada masa jahiliah. Dan siapa
yang berbuat buruk dalam Islam, maka ia akan dimintakan pertanggungjawaban
akan dosanya pada yang pertama (saat masih jahiliah) dan yang lainnya
(setelah Islam)".
Ini adalah orang yang masuk Islam namun
merusakan keislamannya itu. Dan telah diketahui bersama bahwa kemurtadan
adalah perusakan yang paling besar terhadap keislaman seseorang. Maka ia akan
kembali menanggung dosa yang telah ia lakukan dalam kekafirannya sebelum ia
masuk Islam, dan keislaman yang pernah ia rasakan itu tidak menghapuskan
dosa-dosa yang lama itu. Demikian juga dosa orang yang taubatnya ia
langgar, maka dosa yang dilakukan sebelum taubat yang ia langgar itu kembali
ia tanggung. Juga tidak menghalangi dosa yang ia lakukan kemudian.
Mereka berkata: karena kesahihan
taubat disyaratkan kontinuitasnya dan terus dijalani, maka sesuatu yang
tergantung dengan suatu syarat akan hilang ketika syarat itu lenyap.
Seperti kesahihan Islam disayaratkan kontinuitasnya dan terus dijalaninya.
taubat adalah wajib secara ketat sepanjang usia seseorang. Masanya adalah
sepanjang usia orang itu. Oleh karena itu, hukumnya-pun harus terus ditaati
sepanjang usianya. Maka bagi dia, masa sepanjang usianya itu adalah seperti orang
yang menahan diri dari melakukan hal-hal yang membatalkan puasa ketika ia
berpuasa pada hari itu. Maka jika sepanjang hari ia menahan diri dari yang
membatalkan puasa, kemudian ia melakukan perbuatan yang membatalkan puasa
pada sore harinya, niscaya seluruh puasanya yang telah ia jalani dari pagi
hari itu otomatis batal, dan tidak dinilai sebagai puasa. Dan ia sama seperti
orang yang tidak puasa sama sekali.
Mereka berkata: ini didukung oleh
hadits sahih, yaitu sabda Rasulullah Saw:
"Sesungguhnya seorang hamba telah beramal dengan amal
penghuni surga, hingga antara dirinya dengan surga itu sekadar satu lengan,
kemudian ketentuan takdirnya datang hingga akhirnya ia beramal dengan amal
penghuni neraka sehingga iapun masuk ke neraka itu".
Ini lebih umum dari amal yang kedua
itu, suatu kekafiran yang menghantarkan kepada neraka selamanya, atau
kemaksiatan yang menghantarkannya ke neraka. Karena Rasulullah Saw tidak
mensabdakan: "maka ia murtad dan iapun meninggalkan Islam". Namun
menghabarkan bahwa: ia beramal dengan amal yang menghantarkannya ke neraka.
Dan dalam sebagian kitab sunan terdapat: "Ada seorang hamba yang telah
melakukan ketaatan kepada Allah SWT selama enam puluh tahun, dan ketika ia
menjelang kematiannya ia melakukan kecurangan dalam berwasiat maka iapun
masuk neraka".
Penutup yang buruk lebih umum dari
penutup dengan kekafiran atau kemaksiatan. Dan seluruh amal perbuatan dinilai
dengan akhir amal itu.
Sedangkan kelompok kedua -- yaitu mereka yang berkata bahwa dosa yang lama yang telah
ia mintakan taubatnya tidak kembali ditanggungnya jika ia melanggar taubatnya
itu-- berdalil bahwa dosa itu telah terhapus dengan taubat. Maka ia
seperti orang yang tidak melakukannya sama sekali, sehingga ia seperti tidak
ada. Sehingga ia tidak kembali ke situ setelahnya. Namun yang harus ia
tanggung hanya dosa yang baru itu, bukan dosa yang lama.
Mereka berkata: tidak disyaratkan
dalam kesahihan taubat itu ia tidak pernah berdosa hingga mati. Namun
jika ia telah menyesal dan meninggalkan dosa serta bertekad untuk
meninggalkan sama sekali perbuatannya itu, niscaya dosanya segera
terhapuskan. Dan jika ia kembali melakukannya, ia memulai dari baru catatan
dosanya itu.
Mereka berkata: ini tidak seperti
kekafiran yang menghancurkan seluruh amal kebaikan. Karena kekafiran itu
lain lagi masalahnya. Oleh karenanya ia menghapuskan seluruh kebaikan.
Sedangkan kembali berdosa tidak menghapuskan amal kebaikan yang telah
dilakukannya.
Mereka berkata: taubat adalah termasuk
kebaikan yang paling besar. Maka jika taubat itu dibatalkan dengan melakukan
dosa kembali, niscaya pahala-pahala itu juga terhapuskan. Pendapat itu tidak
benar sama sekali. Itu sama seperti mazhab kaum khawarij yang mengkafirkan
orang karena dosa yang ia perbuat. (Dan kaum Mu'tazilah yang memasukkan orang
yang berdosa besar dalam neraka, meskipun ia telah melakukan banyak amal yang
baik. Kedua kelompok itu sepakat memasukkan orang-orang yang melakukan
dosa-dosa besar dalam neraka. Namun khawarij mengkafirkan mereka, dan
mu'tazilah menilai mereka fasik. Dan kedua mazhabn itu adalah batil dalam
Islam.) Bersebrangan dengan nash-nash, akal serta keadilan:
"Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun
sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan
melipat gandakannya, dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar"
[QS. an-Nisa: 40].
Mereka berkata: Sedangkan
kontinuitas taubat adalah syarat keabsahan kesempurnaan dan kemanfaatan
taubat itu, bukan syarat keabsahan taubat atas dosa yang sebelumnya.
Namun tidak demikian halnya dengan ibadah, seperti puasa selama satu hari
penuh, serta bilangan raka'at dalam shalat. Karena ia adalah suatu ibadah
secara utuh, sehingga ibadah itu tidak dapat diterima jika tidak terpenuhi
seluruh rukun dan bagian-bagiannya. Sedangkan taubat, ia adalah ibadah
yang beragam sesuai dengan ragam dosa. Setiap dosa memiliki cara taubat
tersendiri. Jika seseorang melakukan suatu ibadah dan tidak melakukan yang
lain, itu tidak berarti ibadah yang dilakukannya itu tidak sah karena ia
tidak mengerjakan ibadah yang lain, seperti telah disebutkan sebelumnya.
Oleh karenanya: Apakah orang yang shalat namun ia
tidak berpuasa, atau yang menunaikan zakat namun tidak pernah melaksanakan
ibadah hajji (padahal ia mampu), pahala ibadah yang ia lakukan terhapus?
Pokok masalah: taubat sebelumnya adalah kebaikan, sedangkan mengulang dosa
itu adalah keburukan, maka pengulangan dosa itu tidak menghapus kebaikan itu,
juga tidak membatalkan kebaikan yang dilakukan bersamaan dengannya.
Mereka berkata: ini dalam pokok-pokok
(ushul) ahli sunnah lebih jelas. Mereka sepakat bahwa seseorang bisa
mendapat perlindungan dari Allah SWT dan pada saat yang sama juga dibenci
oleh-Nya. Atau ia dicintai Allah SWT namun ia juga sekaligus dibenci dari
segi lain. Atau ada orang yang beriman namun masih mempunyai kemunafikan,
juga keimanan dan kekafiran. Dan orang itu dapat lebih dekat kepada suatu
sisi dari sisi yang lain. Sehingga ia menjadi kelompok sisi itu. Seperti
firman Allah SWT: "Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari
padi keimanan"[QS. Ali Imran: 167].
Dengan dasar ini, ahli sunnah
mengatakan bahwa para pelaku dosa besar masuk neraka, namun setelah merasakan
siksa neraka itu mereka akan keluar darinya dan masuk surga, karena adanya
dua unsur pada dirinya.
Jika demikian, maka orang yang
mengulang melakukan dosa setelah bertaubat adalah orang yang dibenci Allah
SWT karena ia mengulangi dosanya, namun juga dicintai karena ia telah
melakukan taubat dan amal ang yang baik sebelumnya. Dan Allah SWT telah
menetapkan bagi segala seuatu sebab-sebabnya, dengan adil dan penuh hikmah,
dan Allah SWT tidak sedikitpun melakukan kezhaliman.
"Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba
(Nya)" [QS. Fushilat: 46].
3. Sisi Praktis dalam Taubat
Dalam taubat juga terdapat sisi atau
unsur praksis yang harus dijalankan, hingga hakikat taubat dapat dipenuhi,
serta ia dapat memberikan hasilnya bagi jiwa dalam kehidupan.
a.
Meninggalkan Kemaksiatan Secepatnya
Suatu taubat tidak bermakna jika orang
yang bertaubat itu masih tetap menjalankan kemaksiatan yang ia sesali itu,
serta tiddak meinggalknanya; karena, kalau begitu, apa yang ia taubatkan,
jadinya? Meninggalkan taubat itu dinilai sebagai pekerjaan, karena ia
menahana diri dari kemaksiatan yang ia ingin lakukan, untuk tetap dalam
ketaatan. Tidak diragukan lagi, menahan diri ini adalah pekerjaan, gerak
tubuh, serta jihad fi sabilillah. Allah SWT berfirman:
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan )
Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami."
(QS. al 'Ankabut: 69).
b.
Istighfar
Dengan pengertian, memintah maghfirah
dan ampunan dari Allah SWT. Seperti dikatakan oleh bapak yang pertama, Adam,
dan ibu yang pertama, Hawa; setelah keduanya makan pohon yang dilarang itu:
"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri,
dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya
pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS. al A'raaf: 23)
Syarat-syarat
Istighfar dan Etika-etikanya
1. NIAT:
niat yang benar dan ikhlas semata ditujukan kepada Allah SWT. Karena Allah
SWT tidak menerima amal perbuatan manusia kecuali jika amal itu dilakukan
dengan ikhlas semata untuk-Nya. Allah SWT berfirman:
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan
lurus" [QS. Al Bayyinah: 5].
Dan
sabda Rasulullah Saw :
"Seluruh amal perbuatan manusia ditentukan oleh niatnya.
Dan orang yang beramal mendapatkan balasan atas amalnya itu sesuai dengan apa
yang diniatkannya". Hadits muttafaq alaih.
2. Agar
hati dan lidah secara serempak melakukan istighfar. Sehingga tidak boleh
lidahnya berkata: aku beristighfar kepada Allah SWT, sementara hatinya ingin
terus melakukan maksiat.
Rabi'ah berkata: istighfar kita butuh kepada istighfar lagi!
Jika istighfar kita hanya dengan lidah saja, tidak disertai dengan hati.
3. Di
antara adab yang melengkapi istighfar itu adalah: agar ia berada dalam
keadaan suci, sehingga ia berada dalam kondisi yang paling sempurna, zhahir
dan bathin. Seperti dalam hadits Ali bin Abi Thalib, ia berkata: Abu Bakar
Ash-Shiddiq r.a. (dan apa yang diucapkan oleh Abu Bakar itu adalah benar
adanya) meriwayatkan kepadaku bahwa ia mendengar Rasulullah Saw bersabsda:
"Tidak ada seseorang yang berbuat dosa, kemudian ia bangun
dan bersuci serta memperbaiki bersucinya, kemudian ia beristighfar kepada
Allah SWT, kecuali Allah SWT pasti mengampuninya" [Al Hafizh berkata:
hadits ini diriwaytkan oleh Ahmad dan yang empat dan Ibnu Hibban
mensahihkannya. Fathul Bari: 11/ 98. Sedangkan dalam Jami' Shagir dinisbahkan
kepada Abi Daud dan Tirmizi. Sementara Al Albani menyebutkannya dalam Dha'if
al Jami' (5006)]. Kemudian Rasulullah Saw membaca ayat :
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan
keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon
ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa
selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu,
sedang mereka mengetahui" [QS. Ali Imran: 135].
4. Agar ia
ber istighfar kepada Allah SWT, dan ia berada dalam kondisi takut dan
mengharap. Karena Allah SWT menyifati diri-Nya dengan firman-Nya:
"Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras hukuman-Nya"
[QS. Ghafir: 3].
5. Di
antara adab itu adalah: agar ia memilih waktu yang utama. Seperti saat
menjelang subuh. Seperti firman Allah SWT :
" Dan yang memohon ampun di waktu sahur" [QS. Ali
Imran: 17].
"Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada
Allah)" [QS. adz-Dzariaat: 18].
6. Istighfar
dalam shalat. Pada saat bersujud, sebelum salam atau setelah salam.
Rasulullah Saw telah mengajarkan Abu Bakar untuk mengucapkan
sebelum salam: "Wahai Allah, sesungguhnya aku telah berbuat zalim kepada
diriku dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang dapat mengampuni
dosa-dosa selain Engkau, maka ampunilah daku dengan ampunan dari-Mu, dan
kasihilah aku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi ampunan dan Maha
Penyayang ".
7. Di
antara adab itu adalah: agar ia berdo'a bagi dirinya sendiri dan bagi kaum
mu'minin, sehingga ia masuk dalam kelompok mereka, semoga Allah SWT
menyayanginya dan mengampuninya dengan berkah mereka dan dengan masuk dalam
kelompok mereka.
Oleh
karena itu kita dapati para nabi tidak hanya ber istighfar kepada diri
mereka. Namun juga bagi diri mereka, bagi kedua orang tua mereka, serta bagi
kaum mu'minin dan mu'minat seperti terdapat dalam do'a Nur dan Ibrahim serta
nabi-nabi lainnya.
Di
antara do'a Nuh itu adalah:
"Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu
bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang
beriman laki-laki dan perempuan" [QS. Nuuh: 28].
Dan
dari do'a Ibrahim adalah:
"Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku
dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang -orang mu'min pada hari terjadinya
hisab (hari kiamat)" [ QS. Ibrahim: 41].
8. Agar ia
berdo'a dan ber istighfar dengan redaksi yang disebutkan dalam al Quran dan
sunnah. Dan dalam ber istighfar dan berdo'a dengan al Quran dan hadits itu
mendapatkan dua balasan: Balasan doa dan istighfar dan Balasan mengikuti al
Quran dan sunnah.
Di
antara redaksi-redaksi doa al Quran adalah; doa yang diucapkan oleh Adam,
Nuh, Ibrahim dan nabi-nabi serta rasul-rasul yang lain. Di antaranya adalah:
"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri,
dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya
pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi" [QS. al A'raaf: 23].
[QS. al Mumtahanah: 4-5], [QS. Ali Imran: 147], [QS. Al Hasyr: 10], [QS. Ali Imran: 193].
Dan
dalam hadits terdapat do'a dengan redaksi yang bermacam-macam. Di antaranya
adalah sayyidul istihgfar yang telah kami sebutkan sebelumnya. Di antaranya
adalah:
"Wahai Tuhanku, ampunilah kesalahanku, kebodohanku serta
tindakanku yang berlebihan dalam urusanku".
"Ya Allah, jauhkanlah daku dari kesalahanku sebagaimana
Engkau jauhkan antara Timur dan Barat. Ya Allah, sucikanlah aku dari
kesalahanku dengan air, salju dan embun. Ya Allah, bersihkanlah aku dari
kesalahan-kesalahan seperti baju yang putih dibersihkan dari kotoran".
Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abi Hurairah dan diriwayatkan oleh
Bukhari-Muslim dari A'isyah. Dan adalah Rasulullah Saw berdo'a dengan do'a
itu setelah takbiratul ihram dalam shalat, serta sebelum membaca surah Al
Fatihah.
c.
Mengubah Lingkungan dan Teman
Merubah lingkungan masyarakat yang
penuh dengan kotoran, yang ia tempati saat ia melakukan kemaksiatan dan
penyelewengan. Kemudian mencari lingkungan yang bersih dan suci yang bebas
dari penyakit yang berbahaya. Yang kami maksud dengan penyakit-penyakit itui
adalah: penyakit kesalahan, dosa dan penyelewengan. Dan ini lebih berbahaya
dari penyakit badan, dan lebih cepat pengaruhnya.
Ini artinya, orang yang bertaubat
hendaknya meninggalkan teman-temannya yang jahat yang mengajaknya untuk
melakukan kemaksiatan dan menarik kakinya ke arah itu. Yang membuat ia
terjatuh seperti mereka. Sehingga ia kemudian turut meminum minuman keras,
berjudi, menggunakan obat bius, memperjual belikan barang yang haram,
menerima sogokan, jatuh dalam tipu daya wanita, bekerja dengan musuh sebagai
mata-mata, atau meninggalkan shalat serta mengikuti syahwat... dan
macam-macam kesalahan lainnya. Oleh karena itu, ia harus mengganti
teman-teman yang jahat itu dengan teman-teman yang baik. Yang dengan
melihat mereka saja ia akan mengingat Allah SWT, pembicaraan mereka mengajak
kepada ketaatan kepada Allah SWT , dan perbuatan mereka menunjukkan kepada
jalan Allah SWT.
Pengaruh teman dan sahabat bagi manusia
amat besar, seperti diungkapkan oleh para bijak bestari dan para penyair dari
semenjak dahulu kala. Hingga ada penyair yang berkata:
"Tentang seseorang maka janganlah tanyakan dirinya
sendiri, namun tanyakan temannya Karena setiap teman dengan temannya adalah
sama. "
Teman ada dua macam: teman yang
membawa engkau menuju surga, dan teman yang menjerumuskan engkau ke dalam
neraka. Al Quran telah menceritakan kepada kita akan bahaya teman jenis
terakhir ini. Karena ia dapat menyesatkan dan menghalangi dari jalan Allah.
Dan mungkin korban-korban mereka baru diketahui di akhirat nanti, ketika
tabir kegaiban telah dibuka, dan manusia melihat hakikat sejara jelas. Allah
berfirman:
"Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang-orang yang zalim
menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku
mengambil jalan bersama-sama Rasul". Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya
aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia
telah menyesatkan aku dari Al Qur'an ketika Al Qur'an itu telah datang
kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia." (QS. al
Furqan: 27-29).
Oleh karena itu, kita melihat seluruh
teman di dunia menjadi musuh di akhirat. Masing-masing mencela yang lain, dan
satu orang melaknat temannya yang lain, serta mereka saling membebaskan diri
dari masing-masing. Seluruh mereka berkata kepada sahabatnya: engkaulah yang
telah menyesatkan dan membuatku sesat. Kecuali ada satu jenis teman dan
kekasih yang tetap saling mencintai, yaitu orang-orang yang taqwa, yang takut
kepada Rabb mereka, dan azab yang buruk. Allah SWT berfirman:
"Teman-teman akrab pada hari itu
sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang
bertakwa." (QS. az-Zukhruf: 67)
Ini diperkuat oleh hadits sahih: yaitu hadits yang berbicara tentang orang yang telah membunuh
seratus orang, kemudian ia bertanya siapa orang yang paling pandai di dunia.
Kemudian ia diberitahukan untuk menemui seorang alim ia berkata kepadanya:
bahwa ia telah membunuh seratus orang, maka apakah ia masih mempunyai
kesempatan untuk bertaubat? Orang alim itu menjawab: ya, siapa yang yang
menghalangi orang untuk bertaubat? Pergilah engkau ke daerah ini dan ini,
karena di sana terdapat orang-orang yang menyembah Allah SWT, maka
beribadahlah kepada Allah SWT bersama mereka, dan jangan engkau kembali ke
kampungmu, karena ia adalah kampung yang buruk... hadits. [Hadits itu
muttafaq alaih dari Abi Sa'id al Khudri. Disebutkan oleh al Mundziri dalam
Targhib wa Tarhib. Lihatlah : al Muntaqa (1936) dan telah disebutkan hadits
ini dengan lengkap pada halaman sebelumnya.].
d.
Mengiringi Perbuatan Buruk dengan Perbuatan Baik
Ini adalah cabang lain yang
menyempurnakan dua cabang itu dan memperkuat taubat. Yaitu: mengiringi
keburukan dengan kebaikan, sehingga dapat menghapus pengaruhnya dan
membersihkan kotorannya. Inilah yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw kepada
Abu Dzarr r.a. ketika beliau mewasiatkan kepadanya dengan wasiat yang agung
ini, dan bersabda:
"Bertakwalah di manapun engkau berada, dan ikutilah
perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya ia akan menghapusnya, dan
pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik." [Hadits diriwayatkan oleh
Ahmad dan Tirmizi dari Abi Dzar. Tirmizi berkata: hadits ini hasan sahih. Dan
Al Hakim mensahihkannya atas syarat Bukhari dan Muslim, dan disetujui oleh
Adz Dzahabi dan Al Baihaqi dalam Asy-Syu'ab. Dan Ahmad serta Tirmizi dan Al
Baihaqi juga Thabrani meriwayatkannya pula Mu'adz. Adz Dzahabi berkata dalam
kitab Muhadz-dzab: sanadnya adalah hasan. (Al Faidl: 1/121)]
Yang dimaksud adalah: seorang muslim,
jika ia melakukan maksiat, hendaknya segera mengiringinya dengan kebaikan.
Seperti shalat, shadaqah, puasa, perbuatan yang baik, istighfar, dzikr,
tasbih dan lainnya, dari macam-macam perbuatan yang baik. Seperti firman Allah
SWT :
"Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi
dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya
perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan
yang buruk." [QS. Huud: 114]
Contoh konkritnya:
l Jika
kesalahannya itu adalah membicarakan keburukan orang lain di hadapan
seesorang tertentu, maka kebaikan itu adalah memuji orang tadi dihadapan
orang yang diajak berghibah sebelumnya, atau ia beristighfar kepada Allah SWT
baginya.
l Orang yang
kejahatannya adalah membaca buku-buku yang buruk, maka kebaikannya adalah
membaca al Quran, kitab hadits serta ilmu-ilmu Islam.
l Orang yang
keburukannya adalah menghardik kedua orang tua, maka kebaikannya itu adalah
dengan berlaku sebaik-sebaiknya dengan keduanya dan memuliakannya serta
berbuat baik kepadanya, terutama saat mereka dalam usia lanjut.
l Jika
keburukannya adalah duduk dalam tempat hiburan, main-main dan melakukan yang
haram, maka kebaikannya itu adalah duduk di tempat kebaikan, dzikr dan ilmu
yang bermanfaat.
l Jika
keburukannya itu adalah bekerja di koran yang memusuhi Islam dan para
da'inya, maka kebaikannya itu adalah bekerja di koran yang melawan
musuh-musuh Islam itu, dengan menyebarkan berita yang jujur, serta pendapat
yang lurus.
l Jika
keburukannya adalah mengarang kitab yang menyesatkan, serta mengajak kepada
kemungkaran dalam perkataan dan perbuatan, menyebarakan pemikiran yang
menyesatkan serta mengajak kepada syahwat, maka kebaikannya itu adalah
mengarang kitab yang melawan kecenderungan itu, mengajak kepada kebaikan,
memerintahkan kepada yang ma'ruf, serta melarang dari kemunkaran.
l Barangsiapa
keburukannya adalah menzhalimi manusia, memusuhi orang-orang lemah, serta
mengganggu kehormatan mereka dan hak-hak material atau immaterial mereka,
maka kebaikan mereka itu adalah berusaha menegakkan keadilan, berlaku jujur
kepada orang yang zhalim, membela orang-orang yang lemah, dan berusaha
memperjuangkan hak-hak mereka.
l Jika keburukannya
adalah bergabung dengan kelompok penguasa yang despotis dan mendukung
kebohongan mereka, serta membantu mereka menjalankan kezaliman mereka
terhadap rakyat, maka kebaikannya adalah membantah orang-orang yang zalim itu
sedapat mungkin, serta membuka kebobrokan mereka di hadapan massa, membongkar
kelakuan buruk mereka serta korupsi yang mereka lakukan, sehingga manusia
menjauh dari mereka.
Inilah kebaikan yang dapat menghapuskan
dosa orang yang melakukan keburukan semampu ia lakukan. Yaitu dengan melawannya,
menghilangkan pengaruhnya, serta membersihkan diri dari pengaruhnya. Yaitu
dengan meniti jalan yang berlawanan dari perbuatan buruk itu, seperti
dijelaskan oleh imam Al Ghazali. Karena orang yang sakit diobati dengan
lawannya penyakit itu.
Cara penghapusan dosa dengan lawannya
ini, diperkuat oleh syari'ah.
Yaitu al Quran mewajibkan dalam kasus pembunuhan karena kealpaan dengan
membebaskan budak. Karena perbudakan adalah semacam kematian seseorang,
karena ia tidak mempunyai kebebasan. Dengan membebaskan budak maka terdapat
penghidupan maknawi di dalamnya. Karena manusia tidak mungkin menghidupkan
orang secara material dan langsung, maka ia dapat menghidupkannya secara
maknawi, yaitu dengan membebaskannya.
4.
Agar Taubat Ditujukan Kepada Allah SWT
Ada rukun yang dituntut untuk dipenuhi
dalam taubat, meskipun banyak orang tidak menyebutkannya, yang aku dapati
diungkapkan secara implisit, tidak secara eksplisit. Yaitu agar
meninggalkan dosa, menyesal darinya, dan bertekad untuk tidak mengulanginya,
semata karena Allah SWT saja, karena ingin mendapatkan pahala-Nya, serta
takut terhadap hukuman-Nya.
l Barangsiapa
yang meninggalkan minum khamar semata karena dokter melarangnya, dan takut
jika hal itu akan mengancam kesehatannya, kemudian orang itu meninggalkannya
semata karena itu, maka ia tidak dapat dimasukkan dalam kelompok orang yang
taubat. Jika ia meninggalkan perbuatan itu dengan latar belakang seperti itu,
maka hal itu tidak dianggap sebagai taubat.
l Orang yang
meninggalkan zina, semata karena ia terkena aids, atau takut terkena penyakit
itu, atau penyakit-penyakit kelamin lainnya, sehingga ia takut terhadap
keselamatan dirinya, kemudian ia meninggalkan zina, maka itu bukan taubat
yang sebenarnya.
l Orang yang
meninggalkan menggunakan obat bius, semata karena takut ditangkap polisi dan
ancaman hukuman mati, maka ia bukan orang yang bertaubat, dan meninggalkannya
itu bukan taubat.
l Orang yang
uangnya habis di meja judi, kemudian ia meninggalkan judi itu, karena tidak
memiliki uang lagi serta kekayaannya sudah habis, saat itu ia tidak dapat
dikatakan telah bertaubat, dan ia tidak termasuk dalam golongan orang yang
taubat.
Al Quran kita temukan berbicara tentang
dua anak Adam. Ketika yang jahat membunuh saudaranya yang baik, kemudian ia
membawa-bawa mayat saudaranya itu dalam waktu lama, dan ia tidak tahu
bagaimana menguburkannya, karena itu adalah kematian yang pertama dalam
sejarah manusia:
"Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali
di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya
menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa
aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan
mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang di antara
orang-orang yang menyesal. [QS. al Maaidah: 31]
Penyesalan saudara yang jahat ini bukan
dari kemaksiatannya kepada Allah SWT, atau karena ia telah membunuh
saudaranya, namun semata karena ia membawa-bawa mayat itu dalam waktu yang
cukup lama, serta ia tidak tahu bagaimana menguburkannya, oleh karena itu
penyesalannya itu tidak berguna baginya.
|
Ilmu adalah jendela dunia karena dengan ilmu kita bisa menguasai, menjaga, mengelola, bahkan menghancurkan dunia, oleh karena itu tuntutlah dan cari ilmu pengetahuan yang akan membawa kebaikan semua orang jangan malah sebaliknya.
Tuntunan Bertaubat kepada Allah SWT
Langganan:
Postingan (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar