Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Ilmu memiliki dua pengertian yaitu :
- Ilmu diartikan sebagai suatu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerapkan gejala gejala tertentu dibidang (pengetahuan) tersebut, seperti ilmu hukum, ilmu pendidikan, ilmu ekonomi, dan sebagainya.
- Ilmu diartikan sebagai pengetahuan atau kepandaian soal duniawi, akhirat, lahir, bathin dan sebagainya, seperti ilmu akhirat, ilmu akhlak, ilmu bathin, ilmu sihir, dan sebagainya
Menurut 4 Ahli mendefinisikan ilmu
sbagai berikut :
- Ilmu adalah pengetahuan yang bersifat umum dan sistematis, pengetahuan dari mana dapat disimpulkan dalil-dalil tertentu menurut kaidah-kaidah umum. (Nazir, 1988)
- Konsepsi ilmu pada dasarnya mencakup tiga hal, yaitu adanya rasionalitas, dapat digeneralisasi dan dapat disistematisasi (Shapere, 1974)
- Pengertian ilmu mencakup logika, adanya interpretasi subjektif dan konsistensi dengan realitas sosial (Schulz, 1962)
- Ilmu tidak hanya merupakan satu pengetahuan yang terhimpun secara sistematis, tetapi juga merupakan suatu metodologi.Dari empat pengertian di atas dapatlah disimpulkan bahwa ilmu pada dasarnya adalah pengetahuan tentang sesuatu hal atau fenomena, baik yang menyangkut alam atau sosial (kehidupan masyarakat), yang diperoleh manusia melalui proses berfikir. Itu artinya bahwa setiap ilmu merupakan pengetahun tentang sesuatu yang menjadi objek kajian dari ilmu terkait.
lmu
merupakan pijakan dalam beramal, sebagai landasan berbuat dan mengarahkan
perbuatan ke arah kebaikan. Dengan ilmu kita mengetahui segalanya. Seorang
bijak pernah berkata, "Ilmu tanpa amal; cacat. Dan, amal tanpa ilmu;
buta." Maaf kalau perkataan orang bijak ini salah redaksi. Atau, ada
istilah bangsa Arab yang tak pernah luput dari ingatan kita, "Al-'ilmu
bilaa 'amalin, kasy-syajari bilaa tsamar". Terjemahan bahasa Indonesianya
lebih kurang seperti ini: "Ilmu yang tidak diamalkan bagai pohon tak
berbuah. Hati-hati, ini bukan hadits, melainkan pepatah alias 'ibarah. Makanya,
jika berdakwah, pakailah dalil sesuai sumbernya. Jangan pepatah dianggap
hadits.
Singkatnya,
ilmu harus aplikatif. Pengetahuan yang kita peroleh harus aplikatif. Benar ya,
ilmu itu harus aplikatif. Ilmu harus amaliah. Sebaliknya, beribu-ribu amal yang
kita lakukan tidak akan berbuah apa-apa melainkan kelelahan. Apa maksudnya?
'Amal yang dalam bahasa Indonesia berarti perbuatan, tidak hanya mengerahkan
segenap jiwa raga dan otot, namun akal pun berperan.
Andaikata kita shalat fardlu tanpa wudlu, ya mungkin karena tidak tahu ilmunya, lantas kita shalat ber-rakaat-rakat hingga badan pegal-pegal. Apakah akan berbuah pahala? Tentunya tidak. Manusia pembelajar selalu melakukan segala pekerjaannya didasarkan pada ilmu yang ia peroleh. Amal merupakan konsekuensi dari ilmu. Untuk itu, setiap ilmu harus aplikatif, dan setiap amal harus ilmiah. Ilmu harus profesional, dan profesionalisme harus ilmiah!
Sufyan
Ats-Tsauri berkata : "Ilmu itu dipelajari agar dengannya seseorang bisa
bertakwa kepada Allah" (Al-Hilyah : 6/362).
Maka
tujuan dari mempelajari ilmu adalah untuk beramal dengannya dan
bersungguh-sunggguh dalam menerapkannya. Dan ini terdapat pada orang-orang yang
berakal, yang dikehendaki Allah Ta'ala bagi mereka kebaikan hidup di dunia dan
akhirat.
Imam
Tirmidzi meriwayatkan dari Abi Barzah Al Aslami, beliau berkata bahwa
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallamKedua kaki seorang hamba tidak akan
bergeser pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya dalam hal apa ia
habiskan, tentang ilmunya dalam hal apa ia kerjakan dengannya, tentang hartanya
dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan, dan tentang tubuhnya
dalam hal apa ia gunakan". Dalam riwayat Thabrani dan Al-Bazzar dengan
lafadz : "... dan tentang ilmunya apa yang diamalkannya dari ilmu
tersebut". bersabda : "
Abu
Darda radhiyallohu anhu berkata : "Engkau tidak akan menjadi alim
sampai engkau berilmu, dan engkau dengan ilmu tadi tidak akan menjadi alim
sampai engkau mengamalkannya".
Abu
Darda radhiyallohu anhu juga berkata : "Sesungguhnya hal pertama
yang akan ditanyakan Robbku di hari kiamat yang paling aku takuti adalah
tatkala Dia berkata : ‘Engkau telah berilmu, maka apa yang telah kamu amalkan dari
ilmumu itu?".
Abu
Hurairoh radhiyallohu anhu berkata : "Perumpamaan ilmu yang tidak
diamalkan bagaikan harta simpanan yang tidak dinfakkan di jalan Alloh
Ta'ala".
Az-Zuhri
berkata : "Orang-orang tidak akan menerima ucapan seorang alim yang tidak
beramal, dan tidak pula orang beramal yang tidak berilmu".
Abu
Qilabah berkata : "Jika Alloh menjadikanmu berilmu maka jadikanlah ilmu
itu sebagai ibadah kepada Alloh, dan janganlah kamu hanya berorientasi untuk
menyampaikannya kepada orang lain (tanpa mengamalkannya)".
Abdullah
bin Al Mu'taz berkata : "Ilmu seorang munafiq pada lidahnya, sedang ilmu
seorang mukmin pada amalannya".
Amal
adalah pendorong untuk tetap menjaga dan memperkokoh ilmu dalam sanubari para
penuntut ilmu, dan ketiadaan amal merupakan pendorong hilangnya ilmu dan
mewariskan kelupaan. Asy Sya'bi berkata : "Kami dahulu meminta bantuan
dalam mencari hadits dengan berpuasa, dan kami dahulu meminta bantuan untuk
menghapal hadits dengan mengamalkannya".
As
Sulamiy berkata : "Telah memberi kabar kepada kami dari orang-orang yang
mengajari Al-Qur'an kepada kami, bahwa mereka (para shahabat Nabi) dahulu
belajar Al-Qur'an dari Nabi shollallohu alaihi wa sallam dimana mereka
apabila mempelajari sepuluh ayat mereka tidak akan beranjak ke ayat berikutnya
sampai mereka mengamalkan kandungannya".
Sesungguhnya
orang yang bodoh kelak di hari kiamat akan ditanya kenapa ia tidak belajar
(mencari ilmu), sedangkan orang yang berilmu akan ditanya apa yang telah
diamalkan dengan ilmunya. Jika ia meninggalkan amal, maka ilmunya akan berbalik
menjadi hujjah bagi dirinya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda : "Pada hari kiamat nanti, seseorang akan digiring kemudian
dilemparkan ke dalam api neraka sampai isi perutnya terburai keluar. Kemudian
penghuni neraka bertanya kepadanya : ‘Bukankah kamu dahulu menyerukan kebajikan
dan melarang kemungkaran?' Ia menjawab : ‘Saya dahulu menganjurkan kebaikan
tapi saya sendiri tidak melakukannya, dan saya melarang kemungkaran tapi saya
sendiri mengerjakannya'."(HR. Bukhari dan Muslim).
Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda : "Perumpamaan
seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia dan melupakan dirinya,
seperti lilin yang menerangi manusia tetapi membakar dirinya sendiri".
(HR. Thabrani).
Yahya
bin Muadz Ar Razi berkata : "Orang miskin pada hari kiamat adalah orang
yang ilmunya berbalik menjadi hujjah baginya, ucapannya berbalik menjadi
musuhnya, dan pemahamannya yang mematahkan udzurnya".
Ibnul
Jauzi berkata : "Orang yang benar-benar sangat patut dikasihani adalah
orang yang menyia-nyiakan umurnya dalam suatu ilmu yang tidak ia amalkan,
sehingga ia kehilangan kesenangan dunia dan kebaikan akhirat, kemudian dia
ketika hari kiamat dalam datang dalam keadaan bangkrut dengan kuatnya hujjah
atas dirinya". (Shoidul Khatir hal. 144).
Ilmu
Adalah Pemimpin Amalan
"Ilmu
adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.”
(Al Amru bil Ma'ruf wan Nahyu 'anil Mungkar, hal. 15)
Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu
‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa
yaumid diin.
Mu'adz bin Jabal –radhiyallahu
‘anhu- mengatakan,
العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ
"Ilmu adalah pemimpin amal
dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Al Amru bil
Ma'ruf wan Nahyu 'anil Mungkar, hal. 15)
Bukti Bahwa Ilmu Lebih Didahulukan daripada Amalan
Ulama hadits terkemuka, yakni Al
Bukhari berkata, "Al 'Ilmu Qoblal Qouli Wal 'Amali (Ilmu
Sebelum Berkata dan Berbuat)". Perkataan ini merupakan kesimpulan
yang beliau ambil dari firman Allah ta'ala,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ
لِذَنْبِكَ
"Maka ilmuilah (ketahuilah)!
Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah
ampunan bagi dosamu" (QS. Muhammad
[47]: 19).
Dalam ayat ini, Allah memulai dengan
‘ilmuilah’ lalu mengatakan ‘mohonlah ampun’. Ilmuilah yang
dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan ‘mohonlah
ampun’ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu
sebelum amal perbuatan.
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berdalil
dengan ayat ini untuk menunjukkan keutamaan ilmu. Hal ini sebagaimana
dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah ketika menjelaskan biografi
Sufyan dari jalur Ar Robi’ bin Nafi’ darinya, bahwa Sufyan membaca ayat ini,
lalu mengatakan, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah memulai ayat ini
dengan mengatakan ‘ilmuilah’, kemudian Allah memerintahkan untuk beramal?”
(Fathul Bari, Ibnu Hajar, 1/108)
Al Muhallab rahimahullah mengatakan,
“Amalan yang bermanfaat adalah amalan yang terlebih dahulu didahului dengan
ilmu. Amalan yang di dalamnya tidak terdapat niat, ingin mengharap-harap
ganjaran, dan merasa telah berbuat ikhlas, maka ini bukanlah amalan (karena
tidak didahului dengan ilmu, pen). Sesungguhnya yang dilakukan hanyalah seperti
amalannya orang gila yang pena diangkat dari dirinya.“ (Syarh Al Bukhari
libni Baththol, 1/144)
Ibnul Munir rahimahullah berkata,
“Yang dimaksudkan oleh Al Bukhari bahwa ilmu adalah syarat benarnya suatu
perkataan dan perbuatan. Suatu perkataan dan perbuatan itu tidak
teranggap kecuali dengan ilmu terlebih dahulu. Oleh sebab itulah, ilmu
didahulukan dari ucapan dan perbuatan, karena ilmu itu pelurus niat. Niat
nantinya yang akan memperbaiki amalan.” (Fathul Bari, 1/108)
Keutamaan Luar Biasa Ilmu Syar’i
Setelah kita mengetahui hal di atas,
hendaklah setiap orang lebih memusatkan perhatiannya untuk berilmu terlebih dahulu
daripada beramal. Semoga dengan mengetahui faedah atau keutamaan ilmu syar’i
berikut akan membuat kita lebih termotivasi dalam hal ini.
Pertama, Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu di
akhirat dan di dunia
Di akhirat, Allah akan meninggikan
derajat orang yang berilmu beberapa derajat berbanding lurus dengan amal
dan dakwah yang mereka lakukan. Sedangkan di dunia, Allah meninggikan
orang yang berilmu dari hamba-hamba yang lain sesuai dengan ilmu dan amalan
yang dia lakukan.
Allah Ta’ala berfirman,
Allah Ta’ala berfirman,
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا
مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat.” (QS Al Mujadalah: 11)
Kedua, seorang yang berilmu adalah cahaya yang banyak dimanfaatkan
manusia untuk urusan agama dan dunia meraka.
Dalilnya, satu hadits yang sangat
terkenal bagi kita, kisah seorang laki-laki dari Bani Israil yang membunuh 99
nyawa. Kemudian dia ingin bertaubat dan dia bertanya siapakah di antara
penduduk bumi yang paling berilmu, maka ditunjukkan kepadanya seorang ahli
ibadah. Kemudian dia bertanya kepada si ahli ibadah, apakah ada taubat
untuknya. Ahli ibadah menganggap bahwa dosanya sudah sangat besar sehingga dia
mengatakan bahwa tidak ada pintu taubat bagi si pembunuh 99 nyawa. Maka
dibunuhlah ahli ibadah sehigga genap 100 orang yang telah dibunuh oleh
laki-laki dari Bani Israil tersebut.
Akhirnya dia masih ingin bertaubat lagi, kemudian dia bertanya siapakah orang yang paling berilmu, lalu ditunjukkan kepada seorang ulama. Dia bertanya kepada ulama tersebut, “Apakah masih ada pintu taubat untukku”. Maka ulama tersebut mengatakan bahwa masih ada pintu taubat untuknya dan tidak ada satupun yang menghalangi dirinya untuk bertaubat. Kemudian ulama tersebut menunjukkan kepadanya agar berpindah ke sebuah negeri yang penduduknya merupakan orang shalih, karena kampungnya merupakan kampung yang dia tinggal sekarang adalah kampung yang penuh kerusakan. Oleh karena itu, dia pun keluar meninggalkan kampung halamannya. Di tengah jalan sebelum sampai ke negeri yang dituju, dia sudah dijemput kematian. (HR. Bukhari dan Muslim). Kisah ini merupakan kisah yang sangat masyhur. Lihatlah perbedaan ahli ibadah dan ahli ilmu.
Akhirnya dia masih ingin bertaubat lagi, kemudian dia bertanya siapakah orang yang paling berilmu, lalu ditunjukkan kepada seorang ulama. Dia bertanya kepada ulama tersebut, “Apakah masih ada pintu taubat untukku”. Maka ulama tersebut mengatakan bahwa masih ada pintu taubat untuknya dan tidak ada satupun yang menghalangi dirinya untuk bertaubat. Kemudian ulama tersebut menunjukkan kepadanya agar berpindah ke sebuah negeri yang penduduknya merupakan orang shalih, karena kampungnya merupakan kampung yang dia tinggal sekarang adalah kampung yang penuh kerusakan. Oleh karena itu, dia pun keluar meninggalkan kampung halamannya. Di tengah jalan sebelum sampai ke negeri yang dituju, dia sudah dijemput kematian. (HR. Bukhari dan Muslim). Kisah ini merupakan kisah yang sangat masyhur. Lihatlah perbedaan ahli ibadah dan ahli ilmu.
Ketiga, Ilmu adalah Warisan Para Nabi
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا
دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ
أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya para Nabi tidak
mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang
mengambilnya, maka dia telah memperoleh keberuntungan yang banyak.” (HR Abu Dawud no. 3641 dan Tirmidzi no. 2682. Syaikh Al
Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud dan Shohih wa Dho’if Sunan
Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Keempat, Orang yang Berilmu yang Akan Mendapatkan Seluruh Kebaikan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Keempat, Orang yang Berilmu yang Akan Mendapatkan Seluruh Kebaikan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا
يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki
mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Setiap orang yang Allah menghendaki kebaikan padanya pasti akan diberi kepahaman dalam masalah agama. Sedangkan orang yang tidak diberikan kepahaman dalam agama, tentu Allah tidak menginginkan kebaikan dan bagusnya agama pada dirinya.” (Majmu’ Al Fatawa, 28/80)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Setiap orang yang Allah menghendaki kebaikan padanya pasti akan diberi kepahaman dalam masalah agama. Sedangkan orang yang tidak diberikan kepahaman dalam agama, tentu Allah tidak menginginkan kebaikan dan bagusnya agama pada dirinya.” (Majmu’ Al Fatawa, 28/80)
Ilmu yang Wajib Dipelajari Lebih Dahulu
Ilmu yang wajib dipelajari bagi
manusia adalah ilmu yang menuntut untuk diamalkan saat itu, adapun ketika
amalan tersebut belum tertuntut untuk diamalkan maka belum wajib untuk
dipelajari. Jadi ilmu mengenai tauhid, mengenai 2 kalimat syahadat, mengenai
keimanan adalah ilmu yang wajib dipelajari ketika seseorang menjadi muslim,
karena ilmu ini adalah dasar yang harus diketahui.
Kemudian ilmu mengenai shalat,
hal-hal yang berkaitan dengan shalat, seperti bersuci dan lainnya, merupakan
ilmu berikutnya yang harus dipelajari. Kemudian ilmu tentang hal-hal yang halal
dan haram, ilmu tentang mualamalah dan seterusnya.
Contohnya seseorang yang saat ini
belum mampu berhaji, maka ilmu tentang haji belum wajib untuk ia pelajari saat
ini. Akan tetapi ketika ia telah mampu berhaji, ia wajib mengetahui ilmu
tentang haji dan segala sesuatu yang berkaitan dengan haji. Adapun ilmu tentang
tauhid, tentang keimanan, adalah hal pertama yang harus dipelajari karena
setiap amalan yang ia lakukan tentunya berkaitan dengan niat. Kalau niatnya
dalam melakukan ibadah karena Allah maka itulah amalan yang benar. Adapun kalau
niatnya karena selain Allah maka itu adalah amalan syirik. Ini semua jika
dilatarbelakangi dengan aqidah dan tauhid yang benar.
Penutup
Marilah
kita awali setiap keyakinan dan amalan dengan ilmu agar luruslah niat kita dan
tidak terjerumus dalam ibadah yang tidak ada tuntunan (alias bid’ah).
Ingatlah bahwa suatu amalan yang dibangun tanpa dasar ilmu malah akan
mendatangkan kerusakan dan bukan kebaikan.
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mengatakan,
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mengatakan,
من عبد الله بغير علم كان ما يفسد
أكثر مما يصلح
"Barangsiapa
yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan
daripada mendatangkan kebaikan." (Al Amru bil Ma'ruf wan Nahyu
'anil Mungkar, hal. 15)
Di samping itu pula, setiap ilmu hendaklah diamalkan agar tidak serupa dengan orang Yahudi. Sufyan bin ‘Uyainah –rahimahullah- mengatakan,
Di samping itu pula, setiap ilmu hendaklah diamalkan agar tidak serupa dengan orang Yahudi. Sufyan bin ‘Uyainah –rahimahullah- mengatakan,
مَنْ فَسَدَ مِنْ عُلَمَائِنَا كَانَ
فِيهِ شَبَهٌ مِنْ الْيَهُودِ وَمَنْ فَسَدَ مِنْ عِبَادِنَا كَانَ فِيهِ شَبَهٌ
مِنْ النَّصَارَى
“Orang berilmu yang rusak (karena
tidak mengamalkan apa yang dia ilmui) memiliki keserupaan dengan orang Yahudi.
Sedangkan ahli ibadah yang rusak (karena beribadah tanpa dasar ilmu) memiliki
keserupaan dengan orang Nashrani.” (Majmu’ Al Fatawa, 16/567)
Semoga Allah senantiasa memberi kita
bertaufik agar setiap amalan kita menjadi benar karena telah diawali dengan
ilmu terdahulu. Semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat, amal yang
sholeh yang diterima, dan rizki yang thoyib.
Alhamdulilllahilladzi bi ni’matihi
tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa
shohbihi wa sallam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar